Menjaga Lidah


Kejadian 9:18-28

9:18 Anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera ialah Sem, Ham dan Yafet; Ham adalah bapa Kanaan.

9:19 Yang tiga inilah anak-anak Nuh, dan dari mereka inilah tersebar penduduk seluruh bumi.

9:20 Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur.

9:21 Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya.

9:22 Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar.

9:23 Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya.

9:24 Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya,

9:25 berkatalah ia: “Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya.”

9:26 Lagi katanya: “Terpujilah TUHAN, Allah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.

9:27 Allah meluaskan kiranya tempat kediaman Yafet, dan hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.”

9:28 Nuh masih hidup tiga ratus lima puluh tahun sesudah air bah.

Ayat mas:

Yakobus 3:10

3:10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

Lahir dalam keluarga miskin dengan banyak anak, tidaklah mudah. Kurang terurus, nakal, tak dihargai. Di kelas 3 SD, guru saya berkata: “Hei, kamu adiknya Badu ya? Jangan buat ulah seperti kakakmu, ya—sudah goblok, nakal lagi, tahu sendiri nanti!” Ucapan itu seperti kutuk yang menusuk hati. Setahun itu, saya tersiksa. Saya jadi suka bolos, malas belajar, dan akhirnya tidak naik kelas.

Tahun ajaran berikutnya, dengan baju lusuh dan celana bertambal, saya mengulang kelas 3. Malu rasanya. Namun, setelah 2 bulan, guru baru saya berkata, “Kamu bukan anak bodoh, tetapi anak pintar. Ibu akan buktikan.” Kata-kata berkat itu mengiang dan membakar semangat saya untuk belajar. Walau saya harus menunggu malam, agar bisa meminjam buku teman yang telah selesai belajar—sebab saya tak mampu membeli. Menjelang penerimaan rapor, ibu guru memanggil saya. Ia bandingkan rapor saya dengan si juara 1, ternyata nilai saya ada di atasnya. Hanya, karena sudah mengulang, saya tak bisa menjadi juara satu. Namun, kata penguatannya terngiang hingga kini, khususnya saat menghadapi kesulitan hidup.

Biarlah berkat saja yang keluar dari mulut kita. Kata yang terucap tak bisa ditarik kembali, dan ia bisa membangun atau menghancurkan. Lihatlah luapan kejengkelan Nuh pada Ham. Saat Ham menertawakan bapaknya yang telanjang karena mabuk, Nuh mengutuki agar ia dan keturunannya menjadi budak keturunan Sem dan Yafet. Dari generasi ke generasi, ucapan Nuh dijadikan alasan menghalalkan perbudakan sebagai kodrat ras tertentu. Hingga penebusan Kristus menghancurkan kutuk dan darah martir kristiani menghapus perbudakan, apartheid, dan segala diskriminasi. Jagalah lidah!

JAGALAH MULUT ANDA

UCAPKAN BERKAT DAN JANGAN MENGUTUK

Sumber RenunganHarian

Leave a comment

Filed under menu ok, Rohani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s