Yang Terbaik Tidak Selalu yang Terindah


Kemarin sore saya membaca koran Jawa Pos dimana di halaman 32 terdapat sebuah artikel yang membahas tentang film baru berjudul ‘Aku, Dia, dan Mereka’. Film ini berkisah tentang persahabatan dan cinta anak mahasiswa di Melbourne. Ada hal menarik yang membuat saya berpikir dimana sang sutradara, Marianne Rumantir, berkata, “Bahwa, yang terbaik tidak selalu yang terindah.”

Saya mencari suatu analogi atas pernyataannya itu. Di benak kita bahkan dalam prinsip yang kita miliki sekalipun, kita selalu mengatakan bahwa ‘Yang terbaik pasti yang terindah’. Kita tentunya akan menerima dengan skeptis pernyataan Marianne di atas.

Konsep dan standar kita tentang yang ‘terindah’ itu subyektif per individu, begitu pula dengan yang ‘terbaik’. Bila kita renungkan dan merujuk ke dalam Alkitab, “Apa yang kita rencanakan dan kita inginkan itu seperti tingginya langit dari bumi dibandingkan dengan apa yang Tuhan rencanakan dan Tuhan inginkan (Yes 55:9). Konsep kita tentang yang terindah dan terbaik kebanyakan sudah terkontaminasi oleh konsep dunia ini.

Mungkin (mungkin …) contoh yang tepat adalah hubungan dengan lawan jenis. Karena terlalu terbuai dengan Meteor Garden, Endless Love, dsb, perlahan-lahan konsep romantisme kita, mulai mengikuti apa yang ada di film itu. Romantisme yang disuguhkan di televisi, itulah yang terbaik dan terindah di pikiran kita. Begitu pula dengan gaya hidup yang kita lihat sehari-hari. Karena kita terbuai dengan gaya hidup metropolitan, glamor, banyak uang, dsb, otomatis konsep kita tentang hidup yang layak, terbaik, terindah adalah seperti itu.

Tapi yang harus kita akui, seringkali kita lupa akan Firman Tuhan tadi. Tuhan sebenarnya sudah memberikan yang terbaik, tapi karena konsep kita tentang yang ‘terindah’ itu sudah terkontaminasi, akibatnya kita lebih memilih bersungut-sungut, kecewa dan marah sama Tuhan. Mungkin apa yang Tuhan Yesus lakukan ketika menyembuhkan orang buta bisa mewakili apa yang Marianne sampaikan. Tuhan menggunakan tanah, yang kotor dan jorok (menurut konsep kita), untuk memberikan yang terbaik bagi orang buta itu, dia menjadi bisa melihat.

Dari kacamata manusia, ‘yang terbaik harus yang terindah’. ‘Yang terindah pasti yang terbaik’. Tetapi dari kacamata Tuhan, ‘yang terbaik selalu yang terindah’ (walaupun bagi kita yang terjelek) dan ‘yang terindah selalu yang terbaik’ (walaupun bagi kita yang terburuk). Jadi bagaimana dengan pernyataan Marianne? Dengan sedikit tambahan penjelasan , Marianne menjadi berkata benar, “bahwa yang terbaik (bagi Tuhan) tidak selalu yang terindah (bagi kita).

http://www.mediafire.com/download.php?3a5r0cjzic0gjwe

pass: natachrist

Leave a comment

Filed under Rohani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s